Senin, 01 Oktober 2012

Kisah Keluarga Petani



               Matahari mulai terbit, pagi pun datang. Orang orang bangun dari tidurnya. Para pekerja siap berangkat ke tempat kerjanya. Terkecuali petani yang bekerja yang tak kenal lelah demi menafkahi keluarganya.
               Suatu hari ada seorang petani yang selalu bersemangat dalam kerjanya. Petani itu tinggal bersama anak laki-lakinya tanpa didampingi oleh isterinya karena telah meninggal beberapa tahun lalu.
               Karena kegigihannya petani itu diberi sedikit lahan untuk diolah olehnya. Petani itu sangat senang dan makin semangat kerjanya. Tanpa mengenal waktu petani itu terus bekerja tanpa ada yang membantunya. Suatu ketika setelah anak petani itu lulus Sekolah Menengah Pertama ia ingin melanjutkan ke sekolah yang mahal seperti teman-temannya. Tetapi pak petani itu tidak sanggup namun dia berusaha mencari dana kesana kemari. Akhirnya anaknya pun bisa masuk ke sekolah yang diinginkanya. Hari pertama dia memasuki sekolah barunya, dia melihat temanya pergi ke sekolah ada yang menggunakan motor bahkan mobil.


Dia pun iri kepada temanya. Sepulang sekolah dia marah-marah kepada bapaknya” pak, kenapa sih aku gak bisa seperti yang lainya? Mau ini mau itu bisa kebeli, kenapa aku tidak bisa seperti mereka?”. Petani itu pun menjawab “sabar nak, nanti kalau bapak punya uang akan bapak belikan”. Anaknya menjawab “pokonya dua hari lagi aku ingin membawa motor ke sekolah, gimana pun caranya”. Petani itu kebingungan karena uangnya sudah habis untuk mendaftarkan anaknya. Petani itu menjual hasil panennya, tetapi belum mencukupi juga.
               Setelah beberapa saat petani itu berfikir untuk mejual sebagian yang ada dirumahnya. Dan akhirnya tercapai juga untuk membeli motor. Keesokan harinya anak petani itu dengan semangat mengendarai motor itu. Petani itu berpesan supaya tidak kebut kebutan. Tetapi anak petani itu mengingkari janjinya, karena kelakuannya itu dia menabrak seseorang yang hendak menyebrang, dia berusaha kabur namun dia tertangkap oleh warga dan langsung dikeroyok sampai pingsan. Setelah itu dia ditinggalkan oleh warga dan untungnya ada teman pak petani itu yang membawa ke rumah sakit. Teman petani itu langsung ke rumahnya memberi tahu keadaan anaknya, petani itu bergegas ke rumah sakit, setelah anaknya sadar  petani itu sangat marah pada anaknya itu. Tetapi tak lama anaknya meminta maaf dan meyesali perbuatannya selama ini, dia berjanji tak akan mengulanginya lagi. Pak petani itu pun akhirnya memaafkan perilaku anaknya.