Matahari mulai terbit, pagi pun
datang. Orang orang bangun dari tidurnya. Para pekerja siap berangkat ke tempat
kerjanya. Terkecuali petani yang bekerja yang tak kenal lelah demi menafkahi
keluarganya.
Suatu hari ada seorang petani
yang selalu bersemangat dalam kerjanya. Petani itu tinggal bersama anak
laki-lakinya tanpa didampingi oleh isterinya karena telah meninggal beberapa
tahun lalu.
Karena kegigihannya petani itu
diberi sedikit lahan untuk diolah olehnya. Petani itu sangat senang dan makin
semangat kerjanya. Tanpa mengenal waktu petani itu terus bekerja tanpa ada yang
membantunya. Suatu ketika setelah anak petani itu lulus Sekolah Menengah
Pertama ia ingin melanjutkan ke sekolah yang mahal seperti teman-temannya. Tetapi
pak petani itu tidak sanggup namun dia berusaha mencari dana kesana kemari.
Akhirnya anaknya pun bisa masuk ke sekolah yang diinginkanya. Hari pertama dia
memasuki sekolah barunya, dia melihat temanya pergi ke sekolah ada yang
menggunakan motor bahkan mobil.
Dia
pun iri kepada temanya. Sepulang sekolah dia marah-marah kepada bapaknya” pak,
kenapa sih aku gak bisa seperti yang lainya? Mau ini mau itu bisa kebeli,
kenapa aku tidak bisa seperti mereka?”. Petani itu pun menjawab “sabar nak,
nanti kalau bapak punya uang akan bapak belikan”. Anaknya menjawab “pokonya dua
hari lagi aku ingin membawa motor ke sekolah, gimana pun caranya”. Petani itu
kebingungan karena uangnya sudah habis untuk mendaftarkan anaknya. Petani itu
menjual hasil panennya, tetapi belum mencukupi juga.
Setelah beberapa saat petani itu
berfikir untuk mejual sebagian yang ada dirumahnya. Dan akhirnya tercapai juga
untuk membeli motor. Keesokan harinya anak petani itu dengan semangat
mengendarai motor itu. Petani itu berpesan supaya tidak kebut kebutan. Tetapi
anak petani itu mengingkari janjinya, karena kelakuannya itu dia menabrak
seseorang yang hendak menyebrang, dia berusaha kabur namun dia tertangkap oleh
warga dan langsung dikeroyok sampai pingsan. Setelah itu dia ditinggalkan oleh warga
dan untungnya ada teman pak petani itu yang membawa ke rumah sakit. Teman
petani itu langsung ke rumahnya memberi tahu keadaan anaknya, petani itu
bergegas ke rumah sakit, setelah anaknya sadar
petani itu sangat marah pada anaknya itu. Tetapi tak lama anaknya
meminta maaf dan meyesali perbuatannya selama ini, dia berjanji tak akan
mengulanginya lagi. Pak petani itu pun akhirnya memaafkan perilaku anaknya.




